Sunday, October 31, 2004

Kutukan Hari Sabtu??!!



"Wi, bokap lu meninggal hari apa?" Pertanyaan itu diajukan Jeffrey, yang ayahnya juga baru saja meninggal seminggu sebelum ayah saya.

"Sabtu."Mendengar jawaban saya, Jeffrey langsung mendesah keras.

"Bokap gua juga meninggal hari sabtu. Menurut kepercayaan orang Cina, kalo orang meninggal hari sabtu dia bakal "ngajak" orang lain."

"Ah lu! Ajal mah ajal aja! Lagian bokap lu ngajaknya jauh amat ke bokap gua," bantah saya tak percaya.

"Beneran! Di semarang pernah sampe 7 minggu berturut-turut ada yang meninggal. Sampe akhirnya diadain upacara baru berhenti."Jeffrey masih ngotot dengan pendapatnya. "Lagian coba lu inget. Di taun 2004 dan di angkatan kita aja deh. Bokapnya butet meninggal sabtu, pas seminggu kemudia bokapnya anton. Trus bokapnya Rina meninggal sabtu, pas seminggu kemudian bokapnya Uni," argumen Jeffrey menambahkan bukti kuat pada perkataannya.

Iya juga ya. Saya jadi berpikir kembali. Tapi masak iya, ada 1 hari yang sial? Gak mungkin ah Allah gak adil gitu.

"Klo gitu bokap lu bisa disalahin dong atas meninggalnya bokap gua." Sebenarnya ucapan saya hanya becanda sekaligus membalas argumennya.

"Yaaa Wi, jangan gitu dong. Kalo udah ajal mah ajal aja."

Saya bengong. Yeee.....tadi sendirinya yang ngotot tentang kesialan sabtu!

Tapi mau tak mau ucapan Jeffrey terngiang-ngiang terus di pikiran saya walaupun saya tidak percaya. Hehehehe...aneh juga, gak percaya kok kepikiran mulu ya?

Kalo ucapan Jeffrey benar, berarti Sabtu ini akan ada lagi yang meninggal? Walah...jangan donk!

Maka saya pun menanti hari sabtu dengan deg-degan.

Dan ternyata benar. Hari Sabtu (23 oktober 2004)ada yang meninggal dan waktunya pun pas. Seminggu setelah berpulangnya ayah saya.

Memet, ikan comet kesayangan Adjeng, pada hari itu ditemukan sudah tak bernyawa dalam akuarium. Biarpun cuma ikan, tapi kan makhluk Allah juga.

So....apa kata-kata Jeffrey benar?

Hem.....saya sih tetap tak percaya. Sejak kapan hari sabtu artinya pertanda buruk??? Seperti yang saya bilang :Ajal mah ajal aja. Gak ada urusannya sama hari apapun!

Friday, October 29, 2004

Sumpah Pemuda

Ayo...pada nyadar gak klo hari ini tuh hari sumpah pemuda?Pasti rata - rata enggak kan?Sebenarnya gua juga gak sih kalo gak kebetulan nonton Metro TV. Di situ pas lagi membahas tentang sumpah pemuda dan pengetahaun para pemuda jaman sekarang tentang hari ini. Sedih liatnya. Semuanya gak ada yang tahu sebenarnya apa yang terjadi pada tanggal 28 Oktober 1928 itu. Beberapa masih ingat bunyi sumpah pemuda walau dengan urutan yang kacau. Malah ada 1 orang yang mengira Sumpah Pemuda diperingati setiap tanggal 26 oktober.

Katanya bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarahnya. Kalo kondisinya kayak gini, kapan kita bisa jadi bangsa yang besar ya?

Tuesday, October 26, 2004

Uang Kaget

Tau kan nama reality show ini? Acara ini digagas oleh Helmy Yahya. Cara kerjanya simple, pihak Uang Kaget akan memberi uang senilai Rp 10 juta dan si penerima berhak membelanjakannya untuk apapun dalam waktu 30 menit. Bila sampai batas waktu uang 10 juta itu belum habis, maka sisanya akan diambil kembali oleh produser. Sementara barang yang sudah didapat menjadi hak si penerima uang.

Yang bagus dari acara ini orang yang dipilih oleh pihak "Uang Kaget" adalah mereka yang memang sangat membutuhkan.Menarik melihat ekspresi para peserta nya ketika mendapat rejeki nomplok sebesar itu. Tapi saya khususnya paling tertarik dengan peserta hari ini. Namanya Pak Musa, seorang pemilik warung kecil. Akhir- akhir ini dagangannya kurang laku,bahkan untk makan sekali sehari pun susah, tapi toh dia tetap optimis. Bisa dibayangkan girangnya Pak Musa ketika dia mendapat uang kaget.

Setelah berhamdalah dan sujud syukur, dengan uang tersebut dibelinya tv, beras 2 karung, gelang emas untuk istrinya, 5 permadani dan barang-barang lainnya. Yang menarik perhatian saya ialah 5 permadani itu. Apa gunanya barang seperti itu untuk dia? Dan kenapa musti lima? Ternyata setelah ditanyakan, pak Musa menjawab polos :" Karpet itu buat disumbangkan ke masjid kampung, abis selama ini gak punya karpet. Kan klo dapat rezeki musti dikeluarkan zakatnya."

Saya terpana mendengar alasannya. Baru kali ini ada peserta yang ingat untuk beramal. Subhanallah, dalam kekurangannya, dia masih bisa berzakat. Sungguh saya salut. Sementara kita yang (alhamdulilah) lebih berkecukupan sering kali malah lupa. Malu rasanya !

Saturday, October 23, 2004

Can't Cry Hard Enough







I'm gonna live my life

Like everyday's the last

Without a simple goodbye

It all goes by so fast



And now that you're gone

I can't cry hard enough

No I can't cry hard enough

For you to hear me now



Can I open my eyes

And see for the first time

I've let go of you like

A child letting go of his kite



There he goes

Up in the sky

There he goes

Beyond the clouds



For no reason why

I can't cry hard enough

No I can't cry hard enough

For you to hear me now



Can I look back in vain

And see you standing there

With all that remains

Its just an empty chair



And now that you're gone

I can't cry hard enough

No I can't cry hard enough

For you to hear me now



There he goes

Up in the sky

There he goes

Beyond the clouds

For no reason why

I can't cry hard enough

No I can't cry hard enough

For you to hear me now





Dedicate to my father

The first man in my life

The one who showed me the beauty of life and told me how to live it

The one who taught me about love and always courage me to be my self

How am i now is because of your love & lessons

Thanks for 22 years of my life

It was all happy memories and best experience

I just hope that i coulld give you the same happiness that you gave to me

Though you're not here anymore

But you would always stay in my heart







PS : buat bellefire dan william broters, maap liriknya diganti dikit

Friday, October 22, 2004

Seberapa jauh boleh ikut campur ?



"Kak Wi, tau gak dimana klinik aborsi? Ato gak dukun buat yang kayak gitu deh?" Sudah pasti saya terkejut. Tapi dengan ekspresi yang saya usahakan senetral mungkin, dan suara yang saya jaga tetap tenang, saya pun bertanya. "Emang buat siapa?"



"Gue," jawabnya pelan setelah terpekur sebentar. "Dan baru jalan 2 bulan," tambahnya tanpa diminta. "Tau gak, Kak?" desaknya lagi.



"Nggak tau," jawab saya diikuti dengan gelengan kepala untuk menegaskan. Dan bahkan klo tau pun gak bakal ngasi tau, batin saya.



"Tolong cari tau ya," pintanya dan kemudian berlalu sebelum saya menjawab. Bagus juga karena saya tak akan menyanggupinya. Saya memandangi sosok belakangnya. Seberapa jauh saya boleh ikut campur dalam hal ini?



"Kak Wi, udah dapat infonya belum?" Lima hari kemudian, dia kembali menanyakan hal yang sama. Waktu saya menjawabnya dengan gelengan kepala, dia langsung mendesah kecewa. Kasihan juga saya melihatnya.



"Kenapa musti aborsi sih? Gak ada cara lain? Erwin (bukan nama sebenarnya) udah tau belum?"



"Cara lain paan? Married? Wah enggak deh. Gua gak mau ampe ketauan nyokap, lagian gua belum siap married sekarang. Erwin juga belum siap," jawabnya pasti. Lho? Klo belum siap menikah, kenapa melakukan kegiatan seperti orang yang sudah menikah? saya kembali membatin.



"Ayolah Kak Wi, gak ada cara lain ya? Minum obat apa gitu? Kakak kan udah kuliah obgyn, pasti tau kan?" desaknya lagi. Matanya yang biasa berbinar - binar kali ini tampak redup.



Saya hanya meghembuskan napas dengan keras, pertanda saya mulai kesal. "Dek, di obgyn diajarin gimana cara menyelamatkan bayi. Aborsi hanya kalau sudah terjadi kematian janin. Lagian jangan sampe lah kita menyalah gunakan ilmu yang kita dapat."



Bibirnya yang tipis dan manis itu melekuk cemberut. "Abisnya gimana? Lagian ini kan baru 2 bulan. Belum bernapas."



Hem......sepertinya saya memang membutuhkan tambahan kesabaran. "Sebagai mahasiswa kedokteran semester 5, lu juga pasti tau klo kehidupan diakui mulai sejak pembuahan."

Dia terdiam mendengar bantahan saya. Dan saya pun kembali bersimpati. "Ayolah. Jangan aborsi. Kalo memang gak mau, setidaknya berikan kepada orang lain yang mau. Pikirkan gimana lu di masa depan ntar."



Dia menggeleng keras kepala. "Dibilang gua gak mau ortu tau! Lagian soal masa depan biar ntar aja lah gua urus ndiri."



Saya hanya diam. Dan pertanyaan yang sama kembali muncul dalam pikiran saya. Seberapa jauh boleh ikut campur? Dia toh bukan teman baik bahkan bukan teman dekat. Sampai sekarang pun saya masih tidak mengerti kenapa dia memilih menceritakan masalahnya pada saya yang hanya kenal begitu saja. Saya bukan kakak pembimbingnya apalagi mentornya. Cuma suatu kebetulan bahwa saya adalah teman kakak mentornya. Dan hubungan saya dengan kakak mentornya juga tidak bisa dibilang dekat. Jadi bisa dibayangkan betapa sebenarnya kami tidak akrab sama sekali. Dan seberapa jauh boleh ikut campur? Bahkan pada teman dekat pun saya tidak yakin boleh bebas mencampuri urusan pribadi.



"Kak Wi, gua udah ketemu tempatnya. Erwin nanya ke temannya. Mungkin besok mau kesana." Seminggu setelahnya, dia menghampiri saya dan menceritakan "berita baik" nya dengan wajah berseri. Kebingungan yang selalu ada di wajahnya akhir-akhir ini telah berganti dengan kelegaan yang sangat.



Dan saya tahu bahwa kali ini saya musti mengutarakan sesuatu. Tidak bisa berbuat banyak memang, paling hanya menyuarakan pendapat saya. Tapi mudah - mudahan itu cukup. Saya teringat, "pendapat" saya dulu telah mengakibatkan seorang teman saya meninggal, tapi kalau kali ini saya diam, maka akan ada nyawa lain yang hilang. Setelah saya mengungkapkan pendapat saya, wajahnya menjadi cemberut dan kemudian dia berlalu meninggalkan saya. Yah setidaknya saya sudah berusaha. Meski begitu ada perasaan tak enak di sudut hati. Menyadari bahwa sebenarnya tadi bukanlah usaha terbaik saya, bahkan mungkin tidak bisa digolongkan baik.



"Eh Kak wi, gua udah kesana sama Erwin. Disana dipijat. Sakit banget deh, ampe jejeritan. Trus keluar gumpalan darah gitu sih. Malah kayaknya gua ngeliat bentuk kayak gigi gitu deh. Abis itu disuruh minum cairan macam jamu peluruh kali ya. Pokoknya eneg banget, ampe pengen muntah. Tapi abis itu perut rasanya gak terlalu sakit sih walaopun ada perdarahan." Dia menceritakan semua itu dengan penuh semangat dan wajah berseri-seri. Sedih rasanya melihatnya, mungkin dia belum menyadari bahwa yang sedang digugurkannya itu anaknya sendiri, atau dia belum berpikir tentang perasaannya di masa nanti ketika dia teringat saat ini.



"Lu gak takut?" Cuma itu yang bisa saya tanyakan.



"Takut sih. Tapi gak ada jalan lain," jawabnya cuek.



"Kak Wi, kemarin udah kali ketiga gua ke sana. Liat kayak ada bentuk jari gitu sih. Kata mak pijitnya, kalo bentuk jari gitu dah keluar berarti udah bersih. Terus dikasi cairan lagi, lebih eneg dari yang kemarin-kemarin. Tapi abis itu perdarahannya jadi lebih banyak dan udah gak sakit lagi sih."



Keceriaan di wajahnya benar-benar tak ditutupi lagi. Dia tampak sangat lega dan bahagia. Saya cuma tersenyum samar. Tak mungkin kandungan 2 bulan sudah ada bentuk jari yang terlihat jelas. Paling itu hanya gumpalan daging yang kebetulan berbentuk seperti itu. Dan memikirkannya membuat saya mual dan miris sendiri. Sejujurnya saya merasakan perasaan bersalah dan tak berdaya. Sedih rasanya melihat dia mengambil jalan seperti itu dan saya tidak berdaya melakukan apa pun. Sebenarnya bodoh juga saya merasa seperti itu. Toh dia terlihat sangat puas dan bahagia. Kalau dia saja tidak pusing, kenapa saya yang musti rusuh sendiri?



"Kak Wi, makasi ya udah jadi pendengar yang baik. Pasti heran kan kenapa gua milih cerita ke lu? Karena gua yakin lu gak bakal bocor. Paling gak, nama gua pasti off the record. Dan gua juga mo makasi karena lu gak judge ato mencela gua." Kata-katanya menyadarkan saya dari pikiran saya. Seandainya saya mencelanya, apa yang terjadi ya?



Setelah itu, hubungan kami kembali seperti biasa. Tidak menjadi sangat akrab, walau memang lebih dekat dibanding dulu. Mungkin dikarenakan perasaan kami membagi rahasia yang sama

Wednesday, October 20, 2004

gosip...gosip....gosip....



2 hari yang lalu

(+) Ini serangan kedua buat bokap lu, Wi?

(-) Hah? Kapan yang pertamanya? Heran, kok gua yang anaknya malah gak tau

(+) Lho? waktu minggu lalu-nya lu balik ke jkt mang karena apa? Kata ing bokap lu operasi by pass?

(-) What??!! Kok bisa ada berita kayak gitu? Jelas-jelas gua pulang karena ada acara di rumah (+) Oooo.....gosip yang beredar sih karena bokap lu operasi by pass



kemarin

(+) Wi, emangnya kamu sekeluarga bakal pindah ke makassar?

(-) Hah? Kamu dengar berita dari mana? Aku aja baru tau

(+) Dari yus-yus. Dia sih tau dari ackni, tapi gak jelas juga itu ackni tau dari orang lain ato kesimpulan dia sendiri. Masalahnya anak - anak kan pada nanya sama aku. Aku bilang sih kamu gak pernah ngomong gitu.

(-) Karena emang gak niat

(+) Yah gosip yang beredar sih beda



Tadi pagi

(+) Wi, katanya lu bakal segera married ya? Dah tunangan ya?

(-) Hah? Berita dari mana pula? Kok gua gak tau klo gua bakal segera married?

(+) Gak tau! Gosip yang beredar sih gitu. Katanya lu balik dari makassar pake cincin tunangan. Katanya bakal segera married.

(-) Iya sih gua make cincin, tapi bukan cincin tunangan. Itu cincin almarhum bokap. Lagian gua makenya di jari tengah.

(+) Yah kayaknya sih tuh berita muncul karena liat cincin lu deh. Jadi lu gak jadi married? Padahal anak-anak dah nunggu undangan?

(-) Hah????!!!



Gosip oh gosip. Heran deh, kenapa gak konfirmasi ke gua dulu sebelum menyebarkan berita sih? Tapi klo gak gitu mah namanya bukan gosip ya?Yah lumayanlah buat lucu - lucuan.

Sunday, October 17, 2004

Dedicate to my lovely father







Waktu naik haji tahun 1994, di kota mekkah, papi pernah bermimpi diajak pergi oleh 2 pria yang berpakaian serba putih. Saat itu papi minta diberi waktu karena anak-anaknya masih kecil. Setelah ke2 pria itu berunding, mereka setuju memberi papi waktu.



Tahun lalu waktu umroh, di kota yang sama, papi mengalami mimpi yang sama. Kali ini papi minta diberi waktu karena katanya masih ada urusan yang mau diselesaikan. Pria itu setuju dan mempersilahkan papi menyelesaikan urusannya. Gak ada yang tau apa maksud papi dengan urusan itu, tapi kemungkinan besar yang dimaksud adalah renovasi rumah depan. Karena waktu tahun lalu, rumah itu memang baru mo direnovasi.



Dan sekarang, mungkin Allah SWT menganggap urusan papi sudah selesai karena papi sudah pergi sekarang (16 Oktober 2004).



Mungkin papi udah tau kali ya, karena papi ternyata dah minta maaf ke rekan-rekan kerjanya maupun keluarganya. Minta maaf nya dalam rangka memasuki bulan ramadhan sih, tapi.....papi tipe orang yang minal aidzin-an dekat-dekat waktu, dan bukannya seminggu sebelumnya. Waktu gua tanya kenapa cepat banget, papi bilang : "Lho? Kalo bisa sekarang ya sekarang lah. Kenapa musti ditunda? Daripada nanti udah gak bisa minal aidzin-an lagi."Trus papi juga udah mengubah status rumah jadi milik pribadi. Waktu mami nanya kenapa gak entar - entar aja, papi bilang :"Klo misalnya saya udah gak ada nanti, minimal kan kamu dan anak-anak punya rumah."



Saat ini, gua cuma bisa mengenangnya. Dalam kenangan gua, papi gak pernah marah. Klo kita melanggar aturannya, biasanya dia cuma menghembuskan nafas dan menegur. Tegurannya selalu tenang tapi sampai ke sasaran. Itu kemampuan khas papi. Walau begitu, papi juga pandai melucu. Joke-nya selalu bisa bikin semua ketawa. Dia juga selalu nurutin maunya anak - anaknya. Papi selalu bilang klo papi cari duit tuh buat anak dan istrinya,jadi gak ada istilah pelit segala macam. Klo ada yang kita mau, kasi tau aja. Insya Allah, papi bakal penuhi. Ah...papi selalu terlalu baik.



Papi dan anak-anaknya punya kebiasaan cipika cipiki klo ketemu, bahkan di tempat yang ramai sekalipun. Akibatnya nih kebiasaan jadi tersebar luas di kalangan orang sekitar. Klo misalnya gua main ke Tugu, trus dari kejauhan liat papi jalan, orang sekitar (mulai dari cleaning service sampai suster - dokter), bakal langsung bilang : "Tuh sana wi, cium papi-nya." Biasanya sih gua cuma cengengesan aja, tapi cipika cipiki nya tetap jalan lah.



Waktu kecil dulu, kalo anak-anak lain mengidolakan batman ato superman, gua sih mengidolakan papi. Buat gua, beliau adalah superdad. Hehehehe...gua gak anggap diri gua aneh sih soalnya rizal juga kayak gitu. Trus waktu SMP, di mata pelajaran BK, sering disuruh wawancara orang yang dikagumi, yang gua pilih pasti papi. Guru gua ampe bilang : Wi, kamu itu entah terlalu malas cari orang lain ato father complex sih? Gua sih cuma cengir doang, wong dua-duanya bener kok. Terus waktu di LIA disuruh bikin karangan tentang "Your Biggest Idol" pasti dah bisa nebak kan siapa yang gua jadiin topik??? Sayang beliu dah gak ada sekarang



Papi juga teman curhat utama. Klo gua ngerasa gak bisa (ato belum bisa) ceritain masalahnya ke teman gua, maka gua akan cerita ke papi - mami duluan karena mereka yang paling bisa dipercaya. Papi juga teman diskusiin bola, teman ngobrolin internet , komputer dan pernak perniknya, lawan debat yang seru buat bicarain politik, dan pusat informasi segala macam hal, mulai dari peristiwa sejarah macam perang dunia sampai harga sekilo telor asin saat ini. Selain itu, papi juga pembimbing dalam hal agama, orang yang ngajarin gua sholat dan sangat menekankan keutamaan sholat 5 waktu. Dia mengajarkan pentingnya integritas dan harga diri. Papi juga mengajarkan pentingnya punya impian, karena menurut Papi itulah yang membawanya sampai saat ini. Juga, karena terlalu terpengaruh sama papi, makanya gua tertarik kuliah di kedokteran.Di atas semua itu, papi adalah orang yang paling gua sayang dan penenang hati yang paling TOP.



Walau begitu, papi udah enggak ada sekarang. Dia pergi terlalu cepat dan terlalu tiba-tiba. Bayangin aja , jam 2 gua masih sms-an, eh jam 5 gua dapat kabar beliau sakit. Dan sejak itu , gak pernah bangun lagi. Tapi walau gua sangat kehilangan, gua udah bisa ikhlaskan kepergiannya. Allah lebih sayang sama dia. Insya Allah.

Didoain semoga papi diterima di sisi-Nya dan mendapat tempat terbaik ya.



PS : ada yang lucu deh. Waktu pemakaman papi, Alhamdulilah anak-anaknya tenang semua. Gak ada yang menjerit bahkan memangis juga enggak. Lah yang lucu, kok ya orang - orang pada mikir mami punya ilmu sampai anak- anaknya bisa tenang. Masya Allah, di jaman kayak gini kok masih percaya kayak gitu sih.Trus ehm...bahasa gua kacau ya! Sebodo deh! Lagi gak pengen musingin tata bahasa.